" />
Himpro Ornithologi dan Unggas FKH IPB

Review : Avian Influenza

Review : Avian Influenza

Oleh : Citra Ayu Lestari P (FKH 2011)

Apakah Virus Avian Influenza?

Penyebab Avian Influenza (atau flu burung) adalah virus influenza tipe A (famili Orthomyxoviridae). Berdasarkan sub tipenya terdiri dari Hemaglutinin (H) dan Neuramidase (N). Kedua huruf ini digunakan sebagai identifikasi kode subtipe flu burung yang banyak jenisnya. Pada manusia hanya terdapat jenis H1N1, H2N2, H3N3, H5N1, H9N2, H1N2, H7N7. Sedangkan pada binatang H1-H5 dan N1-N98. Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A H5N1. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22 ̊ C dan lebih dari 30 hari pada 0 ̊C. Virus akan mati pada pemanasan 60 ̊ C selama 30 menit atau 56 ̊ C selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodin.

Virus AI (Avian Influenza) dapat hidup selama 15 hari di luar jaringan hidup. Virus pada unggas akan mati pada pemanasan 80 ̊ C selama 1 menit, dan virus pada telur akan mati pada suhu 64 ̊ C selama 5 menit. Virus juga akan mati dengan pemanasan sinar matahari dan pemberian desinfektan.

Virus AI (Avian Influenza) dapat hidup selama 15 hari di luar jaringan hidup. Virus pada unggas akan mati pada pemanasan 80 ̊ C selama 1 menit, dan virus pada telur akan mati pada suhu 64 ̊ C selama 5 menit. Virus juga akan mati dengan pemanasan sinar matahari dan pemberian desinfektan.

Secara genetik, virus influenza tipe A sangat labil dan tidak sulit beradaptasi untuk menginfeksi spesies sasarannya. Virus ini tidak memiliki sifat proof reading, yaitu kemampuan untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi dan memperbaiki kesalahan pada saat replikasi. Ketidakstabilan sifat genetik virus inilah yang mengakibatkan terjadinya mutan virus yang baru. Akibat dari proses tersebut, virulensi virus AI dapat berubah menjadi lebih ganas dari sebelumnya.

Karakteristik lain dari virus ini adalah kemampuannya untuk bertukar, bercampur, dan bergabung dengan virus influenza strain yang lain sehingga menyebabkan munculnya strain baru yang bisa berbahaya bagi manusia. Mekanisme ini juga menyebabkan kesulitan dalam membuat vaksin untuk program penanggulangan.

 

Bagaimana Penularannya?

Penularan dapat terjadi dari unggas ke unggas, dari unggas ke mamalia (hewan dan manusia), dan dari mamalia ke mamalia. Media penularan dapat melalui air liur, lendir, dan kotoran unggas yang terinfeksi virus AI. Udara juga bisa menjadi media penularan virus ini, terutama dari udara yang tercemar feces kering dari unggas yang terinfeksi virus AI.

Faktor yang memungkinkan terjadinya penularan virus AI ke manusia diantaranya pekerja peternakan dan pemrosesan unggas, petugas kesehatan, pekerja laboratorium yang memproses bahan atau hewan terinfeksi, pengunjung peternakan/pemrosesan unggas dalam satu pekan terakhir, kontak dengan penderita flu burung, kontak dengan kotoran unggas dan produk kotoran unggas (pupuk),kendaraan pengangkut unggas, rumah potong dan kios daging unggas, penjual dan pengepul produk unggas, serta lingkungan yang terdapat unggas tidak dikandangkan.

Pentingkah?

Penyakit ini merupakan penyakit baru (new emerging disease) yang banyak menarik perhatian berbagai pihak karena penularannya yang sangat cepat dengan angka kematian yang tinggi. AI juga melibatkan sektor peternakan, khususnya unggas, yang mempunyai dampak besar terhadap ketersediaan daging (gizi) di masyarakat, dan sektor ekonomi para peternaknya.

Penyakit ini pertama kali ditemukan menyerang di Italia tahun 1878. Pada mulanya penyakit ini hanya menyerang unggas mulai dari ayam, merpati, sampai burung-burung liar. Pandemi pertama terjadi pada tahun 1918 berupa flu Spanyol yang disebabkan oleh subtipe H1N1 dan memakan korban meninggal empat puluh juta orang. Pandemi ini sebagian besar terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Pandemi kedua terjadi pada tahun 1958 berupa flu Asia yang disebabkan oleh H2N2 dengan korban empat juta jiwa. Pandemi terakhir terjadi pada tahun 1968 berupa flu Hongkong yang disebabkan oleh H3N2 dengan korban satu juta jiwa.

Penyebaran flu burung di berbagai belahan dunia antara lain:

  1. Ayam dan manusia di Hongkong pada tahun 1997. Selama wabah tersebut, Avian Influenza A (H5N1) telah menginfeksi delapan belas orang dan enam di antaranya meninggal dunia. Untuk mencegah penyebaran tersebut pemerintah setempat memusnahkan 1,5 juta ayam yang terinfeksi flu burung.
  2. Pada tahun 1999, di Hongkong dilaporkan adanya kasus Avian Influenza A (H9N2) pada dua orang anak tanpa menimbulkan kematian.
  3. Pada tahun 2003, di Hongkong ditemukan lagi dua kasus Avian Influenza A (H5N1) dan satu orang meninggal.
  4. Pada tahun 2003, di Belanda ditemukan 80 kasus Avian Influenza A (H7N7) dan satu diantaranya meninggal.
  5. Pada tahun 2004 terjadi lagi 25 kasus Avian Influenza A (H5N1) di Vietnam (19) dan Thailand (6) yang menyebabkan 19 orang meninggal (5 di Thailand, 14 di Vietnam)

 

Bagaimana Pencegahannya?

Pada unggas:

  1. Pemusnahan unggas yang terinfeksi dengan cara dikubur atau dibakar
  2. Vaksinasi pada unggas yang sehat

 

Pada manusia:

  1. Mencuci tangan dengan antiseptik dan mandi setelah beraktivitas dengan unggas
  2. Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung
  3. Menggunakan alat pelindung diri saat kontak dengan unggas (contoh: masker, pakaian lapang, dan sepatu boots)
  4. Membersihkan kandang unggas dari kotoran unggas setiap hari
  5. Membatasi lalu lintas orang yang masuk ke peternakan
  6. Mendisinfeksi orang dan kendaraan yang masuk ke peternakan
  7. Mendisinfeksi peralatan peternakan
  8. Mengisolasi kandang dan kotoran dari lokasi peternakan

 

Masyarakat:

  1. Memilih daging unggas yang baik dan segar
  2. Mengolah daging unggas dengan baik dan benar. Minimal 80 ̊C selama 1 menit dan telur minimal 64 ̊ C selama 5 menit (atau sampai air atau kuahnya mendidih cukup lama).
  3. Menjaga kesehatan dan ketahanan umum tubuh dengan makan, olahraga, dan istirahat yang cukup.
  4. Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup.
Share

One thought on “Review : Avian Influenza

  1. Blog Segar

    sepakat, meskipun saat ini sudah jarang ditemui permasalahan semacam ini dimasyrakat. Namun, ketelitian dan kecermatan dalam mengkonsumsi menu berbahan dasar ayam/unggas sangatlah penting untuk diperhatikan. Apalagi jika mengkonsumsi ditempat-tempat yang tidak memiliki jaminan standar kesehatan. mencegah lebih baik daripada mengobati. trims :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *