" />
Himpro Ornithologi dan Unggas FKH IPB

Berbagai Riset Tentang Virus Flu Burung

Berbagai Riset Tentang Virus Flu Burung

Penyakit flu burung mulai dikenal pada bulan Desember 2003. Kasus penyakit ini yang berkembang menjadi wabah terhadap sejumlah unggas pertama kali diketahui di Korea Selatan. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau OIUE mempublikasikan bahwa kasus infeksi virus H5N1 pertama di benua Afrika terjadi di Nigeria. Kasus infeksi flu burung yang terdapat di berbagai wilayah di dunia memicu banyak pihak untuk melakukan berbagai riset. Riset flu burungmeliputi semua aspek penyakit ini guna menemukan cara yang efektif untuk mengatasi penyakit ini.

Pusat perlindungan Kesehatan Hong Kong melakukan penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa kasus infeksi H5N1 pada manusia telah terjadi pada tahun 1997 dengan jumlah penderita sebanyak 18 orang. Dan penyebab utama penyakit ini adalah virus influensa tipe A. Tujuan utama riset itu adalah mencari cara untuk mencegah bertambahnya jumlah orang yang terkena flu burung. Sehingga hasil yang dipublikasikan berupa gejala klinis dan cara mencegah penularan penyakit tersebut dari unggas kepada manusia.

Mengingat terbatasnya pengetahuan medis terhadap flu burung, maka pada tahun 2005-2008 juga dilakukan penelitian ilmiah terhadap penyakit ini, yang hasilnya dipublikasikan oleh American College of Chest Physicians. Penelitian ini dilakukan terhadap 22 pasien berusia 3 hingga 47 tahun di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta yang terbukti positif mengidap virus flu burung.

Hasilnya, masih diperlukan pengetahuan yang lebih dalam untuk mengenali gejala awal influensa ini beserta jenis obat yang benar-benar efektif mengatasinya. Tetapi diperoleh hasil lain bahwa Oseltamivir mampu membatasi dampak klinis penyakit ini terhadap pasien. Oseltamivir adalah sejenis obat anti virus yang dapat menghambat penyebaran virus dalam sel tubuh penderita. Obat ini bekerja dengan cara memutus reaksi kimia antara virus dengan sel tubuh penderita.

Penelitian ilmiah lain juga dilakukan oleh Columbia University Mailman School of Publik Health dan Beijing University, yang mengungkapkan bahwa ditemukannya virus H5N1 pada saluran pencernaan, sistem kekebalan tubuh, syaraf pusat, dan saluran pernafasan manusia yang menderita infeksi ini. Juga ditemukan adanya penularan virus ini dari ibu hamil kepada janin melalui plasenta.

Menyebarnya wabah flu burung terhadap beberapa jenis mamalia seperti anjing, babi, dan kucing juga mendorong dilakukannya berbagai riset flu burung lainnya. Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Jerman dengan hasil bahwa kucing dapat terjangkiti virus flu burung setelah memakan unggas mentah yang terinfeksi. Para peneliti mencatat bahwa setelah memakan unggas tadi, kucing menunjukkan gejala klinis berupa suhu tubuh tinggi hingga 40,3 derajat celcius, sesak nafas, dan anoreksia. Penelitian laboratorium menunjukkan terdapatnya virus H5N1 pada organ limfe, hati, darah, cairan pada saluran pernafasan dan ginjal kucing. Kesimpulannya, saluran pencernaan kucing dapat menjadi tempat penyebaran virus flu burung hingga ke organ tubuh yang lainnya.

Sumber: http://fluburung.org/

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *