" />
Himpro Ornithologi dan Unggas FKH IPB

Kowak Malam Kelabu dan Pembangunan Gedung baru di Kawasan LSI IPB-Dramaga

Kowak Malam Kelabu dan Pembangunan Gedung baru di Kawasan LSI IPB-Dramaga

Beberapa jam sebelum saya memulai menulis ini, saya membaca status salah satu teman saya di Facebook yang begini bunyinya
Pagi ini Kowak pun tidak meramaikan danau seperti biasanya. Apakah mereka juga merasakan, tempat bermainnya sedang terancam, oleh pengambil kebijkan yang sedang kesetanan, menyulap lahan hutan menjadi bangunan.” 18 agustus 2011 9:13 ] -Heri Des Ekonomi IPB-45-
Kawan. Tahukah anda dengan Kowak Malam Kelabu? Saya yakin anggota dari Himpro Ornithology dan Unggas hanya sebagian yang tahu (hhha secara angkatan 45 kami hanya berlima),. Saya tidak bermaksud bicara tentang himpro sebenarnya. Namun saya berniat berbicara tentang
“KOWAK MALAM KELABU- PENEBANGAN POHON LSI- PEMBANGUNAN IPB-KONSERVASI-MEDIS-ORNITOLOGY-ZOONOSIS-EID-ECOHEALTH”
Kira-kira kata kunci sementara itu dulu. Tulisan ini erat sekali dengan kedua Himpro yang saya sebutkan, karena kita akan coba menilik permasalahan lingkungan di sekitar kita dari sudut pandang medis konservasi- dan sudut pandang burung. Saya berbagi ke kalian karena saya punya moto MANUK
“MANUK-KU, MANUK-MU, MANUK KITA SEMUA” yang artinya segala hal tentang burung yang kalian ketahui harus dibagi-bagi (nb: saya tidak menjamin jika anda memiliki persepsi sama atas moto itu jika otak kurang beres)
MARI MEMULAI DENGAN MENGENAL “KOWAK MALAM KELABU”
Fotonya ada di bawah bisa dicek. Ini sebenarnya adalah burung yang ada di kawasan IPB Dramaga. Kalau teman-teman ingin mengamatinya bisa dilakukan di belakang danau LSI . Waktu pengamatannya fleksibel pagi, siang (1). Namun kalau malam, kowak ini sering kali kembali ke sarangnya. Tahu tidak sarangnya dimana? Bagi yang menjawab KRB (Kebun raya bogor) anda sangat benar 100%. Kowak setiap paginya akan berpindah dari KRB menuju IPB Dramaga. Saya bahkan pernah melihat kawanan burung ini terbang di atas pintu utama IPB menuju LSI. Hasil pengamatan teman-teman UKF menguatkan bukti memang burung ini tidak bersarang di IPB, mereka tidak menemukan satu sarangpun di sana. Kalau kalian cermat, di KRB burung ini juga dapat dijumpai di sana (2)

 Tahun 2010 setidaknya tercatat 300 populasi burung tersebut. Namun, sejak dilakukan penebangan beberapa spot pepohonan dimana akan dilakukan pembangunan gedung baru, saya sadar tumben kok sepi suara kowaknya. Ckckck.  Pagi itu, teman saya Heri bahkan komen katanya masih ada si kowaknya, tapi Cuma belasan dan gag ramai. Mungkin Heri mencoba mengkritisi dari sudut pandang kelestarian fauna. Saya juga kurang paham kepentingan kelestariannya apa. Bahkan kalau menurut UU indonesia kowak tidak dilindungi. Bahkan menurut IUCN si kowak ini Least Concern. Mengenai alasannya bisa kalian liat di link IUCN yah (3). Pemanfaatannya bahkan hingga saat ini hanya sebatas untuk edutourism, bird watching saja. Jadi apakah penting membahas dampak pembangunan terhadap eksistensi kowak malam kelabu?
 SAYA AKAN MEMBUATNYA PENTING UNTUK DIANALISIS
EID dan ZOONIS
Bahasan mengenai isu Emerging infectious disease yang zoonosis menjadi perhatian penting dalam menanggapi kasus perambahan habitat kowak malam kelabu di kawasan ini. Berdasarkan penelitian kematian manusia di dunia sekitar 25% disebabkan oleh EID(4). Dalam EID ini 75% bersifat zoonosis(5). Jadi permasalahan EID patut menjadi pertimbangan dalam kesehatan masyarakat. Arti terminologi EID sendiri mungkin teman-teman sudah sedikit mengerti bahwa terminologi ini terkait kasus infeksi yang baru saja muncul atau sudah pernah ada sebelumnya dengan tingkat kasus yang meningkat dan wilayah geografis yang berubah(4). Dalam hal ini seringkali EID berupa penyakit yang belum pernah terdeteksi keberdaannya, atau pada kasus infeksi virus seringkali berupa infeksi virus yang mutasi dengan karakteristik kejadian yang berbeda dari kasus sebelumnya. Namun yang jelas EID ini bisa jadi ancaman sejak munculnya perusakan lingkungan yang memicu kontak agen dengan host baru meningkat.
APA YANG BISA KITA ANALISIS
Bayangan saya, jika kawasan pohon tersebut ditebang dan dijadikan bangunan, maka keseimbangan penyakit di kawasan tersebut akan terganggu. Awalnya di kawasan tersebut terjadi keseimbangan segitiga epidemologi yaitu agen host dan lingkungan. Namun dengan penebangan, kontak agen dengan host aslinya akan minim.Sering kali agen akan mencari host baru yang menguntungkan dalam hal ini sering kali manusia.Faktor antropogenik seperti konversi ruang, lahan atau lingkungan alamiah menjadi salah satu pemicu terjadinya zoonosis(6)
POTENSI PENYAKIT DARI KOWAK MALAM KELABU YANG BISA DITRASNSMISIKAN KE MANUSIA
Saya mencoba mencari pembenaran atas analisi saya di atasSaya menemukan indikasi bahwa Nycticorax nycticorax mampu menjadi host natural dari salah satu peyakit zoonosi yaitu West Nile Virus. INGAT SAYA TIDAK MENYATAKAN BAHWA KOWAK DI LSI TERKENA VIRUS INI. Pengujian secara serologis dan imunologis perlu dilakukan jika kita menytakan bahwa suatu hewan terkena penyakit. Namun kekhawatiran saya bukan tanpa alasan jika saya menganalisisnya dari konsep ecohealth.
MENGAPA ISU WEST NILE VIRUS?
Virus ini merupakan flavivirus. Virus ini digolongkan sebagai Japanese enchepalitis virus serocomplex.  Virus ini bukanlah singlevirus . Jadi efeknya pada berbagai inang akan berbeda dan berubah-ubah. Penyakit ini menjadi perhatian penting sebab indikasinya adalah zoonosis dan berasal dari satwa liar. Virus ini bisa menyerang satwa liar seperti burung, kuda,reptil, amfibi bahkan manusia(7). Gambaran patologisnya berupa hemoragi pada otak, splenomegaly, meningocephalitis, nekrosis pankreas dan myocarditis.Virus ini akan menyerang saraf dan menyebabkan gangguan koordinasi(8). Bahkan penanganan virus ini termasuk biosafety level 3.
Kasus pada manusia ditemukan pada tahun 1937 di Uganda. Wabah epedemik pertama terjadi pada tahun 1951 di Israel.  Perkembangan virus ini terus berlanjut terutama pada burung. Pada tahun 1999 di New York City dikabarkan terjadi outbreak West Nile Virus yang diduga strainnya hampir sama dengan yang ada di Israel 1998. Nyctitorax nycticorax merupakan salah satu burung yang mati positif akibat virus tersebut(8).
Virus ini berpotensi menyerang di satwa liar. BISA SAJA di LSI ini burung ini menjadi host natural . Sebab sering kali hewan liar memang menjadi host natural tanpa ada gejala klinis, sebab terjadi keseimbangan degitiga epidemologi di kawsan ini. Saya hanya mengatakan BISA SAJA . jika benar , virus ini dibawa oleh Culex . Kita ketahui bersama, Culex sering ditemukan di perkebunan , lahan basah dan daerah yang banyak genangan air. Bisa bahaya jika kontak nyamuk ini yang awalnya dengan kowak, berubah kontak dengan manusia yang menempati bangunan baru IPB itu. Hal ini memicu zoonosis.
Perlu diingat pernyataan saya hanya berupa dugaan yang berpegang pada fakta dan studi di kawasan lain. Prof. Ian Gardner dari School of Veterinary Medicine, Universitas California pernah menjadi Dosen Tamu Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH-IPB) Jum’at (24/8) di Kampus IPB Darmaga. Dalam kuliah umumnya beliau membahas mengenai potensi west Nile virus yang menyerang burung liar(9). Tercatat hingga 2007 kasus west Nile Virus yang transmisi pada manusia terjadi di 21 negara. Tidak menutup kemungkinan kassus ini terjadi di negara kita Indonesia yang kaya akan biodiversitas, kaya akan minkroorganisme, partikel dan plasma nutfah .
ECOHEALTH DALAM PEMBANGUNAN IPB
Sebenarnya dugaan saya mengacu pada konsep ECOHEALTH. Pendekatan baru yang mempelajari bagaimana perubahan dalam ekosistem bumi (lingkungan fisik, biologi, sosial, ekonomi) dapat mempengaruhi kesehatan manusia (10). Dalam membuat kebijakan pembangunan perlu mempertimbangkan faktor dari kesehatan juga. Saat ini di dunia penentuan kebijakan pembangunan sering kali multidisiplin. Teman-teman kedokteran hewan, teknik sipil, kehutanan, ekonomi semuanya bisa ikut merumuskannya. Setidaknya saat kita memprotes sesuatu kebijakan ada alasan yang kuat yaitu ilmu pengetahuan.
REKOMENDASI PEMBANGUNAN DI IPB
Lahan di kawasan LSI yang dijadikan bangunan baru kalau saya katakan masih termasuk lahan basah. Dalam perencanaannya seharusnya mempertimbangkan berbagai aspek salah satunya keberadaan satwa liar di sana. Dengan begitu jangan sampai kita hilangkan tuh penyangga vegetasinya dan tempat berteduh satwa liar. Statement barusan adalah penilaian kesalahan pembangunan pihak kampus berdasarkan pengembangan lanskap lahan basah. Ilmu ini dipelajari oleh teman-teman di lanskap. Dari sisi kehutanan mungkin teman-teman bisa menjawabnya. Setidaknya saya mencoba menjawabnya dari sisi kedokteran hewan dengan pendekatan ECOHEALTH(11).
APA SAJA YANG BISA KITA PELAJARI DARI KOWAK MALAM KELABU INI?
Sebenarnya apa yang bisa kita pelajari dari satwa liar selain ecohealth? Ternyata banyak sekali kawan. Sebagai calon dokter hewan, kita bisa membantu banyak. Misal menganalisis mengenai  dampak pencemaran lingkungan pada Nycticorax nycticorax melalui evaluasi kadar toksin metal dari bulu burung tersebut(12)(13). Hal itu bisa dilakukan oleh dokter hewan yang mempelajari toksikologi. Dengan begitu kita bisa memberikan rekomendasi status  pencemaran. Banyak hal menarik dari alam yang belum kita gali secara mendalam yah ternyata
Sebenarnya ini yang saya katakan belajar dari alam dan hewan. Banyak hal menarik yang dipelajari di sana. Satu spesies bisa bercerita banyak mulai dari west nile virus, pengelolaan lahan basah bahkan analisis pencemaran lingkungan.
APA SAJA YANG BISA KITA PELAJARI DARI BURUNG BURUNG DI SEKITAR IPB???
Setidaknya tercata 70 spesies di sana, baru 3 spesies yang pernah kita pelajari bersama (kalau teman-teman pernah baca artikel saya mengenai Serak jawa dan Celepuk Reban). Akan menyenangkan kalau kita bisa mempelajari lebih banyak lagi. Artikel saya tidak selalu benar, banyak yang bisa dinegasikan. Saya akan senang jika banyak teman-teman yang bersedia menegasikannya
1.       Hadi. N.K. 2010. Mengamati Kowak Malam Kelabu di IPB Dramaga [terhubung berkala]. http://burung-nusantara.org/article/indonesia-mengamati-kowak-malam-kelabu-di-ipb-dramaga/ [diakses : 20 Agustus 2011]
2.       Riyani. 2011. Kowak Malam [terhubung berkala]. http://galeribogor.net/kowak-malam/ [Diakses : 20 Agustus 2011]
3.       IUCN. http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/144694/0  [diakses : 20 Agustus 2011]
4.       Morens DM, Folkers GK, Fauci AS. 2004. Challenge of Emerging and Re-emerging Infectious Diseases. Nature VII(430): 242-249.
5.       Taylor LH, Latham SM, Woolhouse MJK. 2001. Risk Factor for Human Disease Emergence. Phil. Trans. R. Soc. Lond. B. Pg 983-989.
6.       Daszak P, Tabor GM, Kilpatrick AM, Epstein J, Plowright R. 2004. Conservation Medicine and a New Agenda for Emerging Diseases. Ann. N.Y. Acad. Sci. 1026: 1-11.
7.       Phalen DN & Dahlhausen B. 2004. West Nile Virus. Seminars in Avian and Exotic Pet Medicine. Vol 13, No 2 (April),: pg 67-78
8.       Steele KE, Linn MJ, Schoepp RJ, Komar N, Geisbert TW, Manduca RM, Calle PP, Raphael BL. Clippinger TL, Larsen T, smith J, Lanciotti  RS. Panella NA, & McNamara TS. 2000. Patholohy of Fatal west Nile Virus Infectious in Native and Exotic Bird during the 1999 Outbreak in New York City, New York. Vet Pathol 37: 208-224.
9.       Ris. 2007. Waspada Serangan Virus West Nile Pada Burung [terhubung berkala]. http://ipb.symfonyIndonesia.org/index.php/admin/news/detail/id/32b5b3408e39a31e3d4a1304dd780f12/judul/waspada-serangan-virus-west-nile-pada-burung.html. [Diakses : 20 Agustus 2011]
10.   Bazzani R, Noronha L, Sanchez A.  2009 . An Ecosystem Approach to Human Health : Building a transdisciplinary and participatory research framework for the prevention of communicable diseases. [terhubung berkala]. http://www.globalforumhealth.org/forum8/forum8cdrom/OralPresentations/Sanchez%20Bain20%%20F8-165.doc  [15 Juni 2011]
11.   Tilton DL. 1995. Integrating wetlands Into Planned Landscapes. Landscapes and Urban Planning. 32: 205-209
12.   Custer TW, Golden NH, Rattner BA. 2008. Element Patterns in Feathers of Nestling Black-Crowned Night-Herons, Nycticorax nycticorax L., from Four Colonies in Delaware, Maryland, and Minnesota. Bull Environ Contam Toxicol 81:147–151
13.   Padula V, Burger J, Newman S H, Elbin S, Jeitner C. 2010. Metals in Feathers of Black-Crowned Night-Heron (Nycticorax nycticorax) Chicks from the New York Harbor Estuary. Arch Environ Contam Toxicol  59:157–165
Jasmine Setiyawati Agus Imam- B04080065
Jumat, 9 September 2011
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *