" />
Himpro Ornithologi dan Unggas FKH IPB

CELEPUK REBAN ATAU SERAK JAWA?

CELEPUK REBAN ATAU SERAK JAWA?

Sebuah ulasan berbagai sumber pustaka oleh Jasmine S A Imam
Satu malam sebelum artikel ini dibuat, sayan menuliskan status di akun jejaring sosial saya yaitu “Celepuk reban atau serak jawa?”. Pernyataan singkat mengenai kebingungan atas 2 istilah ini. Ternyata teman saya menanggapinya dengan statement “sunda’nya celepuk reban, neng. . . hohoohyyyy”. Ehm, saya ragu, dan saya akan menegasikannya dalam artikel. Sedikit pendahuluan mengenai tulisan ini. Kebetulan sekali, Introvet 2011 kali ini angkatannya bernama Celepuk Reban. Tujuannya simpel, agar ada pencerahan.


SERAK JAWA
KARAKTERISTIK
Serak Jawa memiliki nama latin Tyto alba javanica ((J. F. Gmelin, 1788).Nama daerahnya dalam bahasa jawa sering disebut deris.. Sedangkan orang sunda sering menyebutnya serak. Istilah dalam bahasa Inggrisnya Barn owl . Ukurannya dari paruh hingga ekor panjangnya sekitar 34 cm, warna tubuhnya putih keperakan. Ciri khasnya ia memiliki muka berwarna putih berbentuk hati1. Sedikitnya terdapat 28 subspesies yang ada di dunia dan 3 di antaranya terdapat di Indonesia yaitu javanica, sumbaensis, delicatula2.Penyebarannya di seluruh dunia, Sumatera, Bali, Jawa , sulawesi dan Nusatenggara 3.
HABITAT
Burung ini bertempat tinggal di daerah ladang pertaian, padang rumput, umumnya dibawah 2000 m dpl, dan bisa mencapai 3000 m dpl di daerah tropis 2. Namun di Indonesia menyebar di daerah 800 m dpl3. Tempat tinggal yang umum yaitu di plafon atau atap rumah , pohon dan gupon. Di daerah Kendal dilaporkan sekitar  88% sarang di atap rumah (asumsi daerah sawah dataran rendah) 4.
PEMANFAATAN
Burung ini memiliki statusnya berdasar IUCN redlist yaitu LC (least concen)5 dan berdasarkan CITES apendix II dimana f2 yang bisa diperdagangkan. Perlindungan di Indonesia sendiri tidak dilindungi.
Hewan nokturnal ini sering kali dimanfaatkan sebagai biopredator hama tikus di persawahan5. Secara alami penelitian ini telah dilakukan. Namun pemanfaatnya jarang diketahui. Sesuai dengan prinsip dari konservasi ( pemanfaataan yang lestari), tidak bisa dipungkiri hewan ini terus dimanfaatkan. Selain itu di daerah  perkebunan kelapa sawit sejak tahun 1988 Serak Jawa sudah diintroduksi untuk menanggulangi permasalahan hama8.
IPB DAN SERAK JAWA (TYTO ALBA JAVANICA)____KEBERADAAN
Keberadaan burung ini di Kampus IPB pernah teramati di LSI, kampus fahutan dan fakultas kedokteran hewan ( di atap wing yang di depan rk Fifarm – lorong patologi)1. Menurut saya keberadaan burung ini di FKH karena memang ada atap yang berlubang, sehingga burung ini mampu berlindung di siang hari. Aksesbiltitas terhadap pakan juga memungkinkan, mengingat letaknya dekat dengan lapangan parkir FKH yang banyak terdapat pohon Kaliandra yang dihuni jenis tupai-tupaian. Suatu keseimbangan alami yang bisa dipelajari secara sederhana. Studi mengenai hewan ini di kampus IPB masih minim, bahkan salah satu kampus negeri di Jawa Tengah telah melakukan studi mendalam mengenai perilaku, habitan dan morfologinya.
IPB DAN SERAK JAWA (TYTO ALBA JAVANICA)____KASUS
“Petugas karantina tengah memperlihatkan burung hantu yang berhasil diamankan di Bandara Supadio Senin (14/2) malam. Sebanyak 28 burung hantu ini dibawa oleh seorang pengajar Institut Pertanian Bogor dari Medan untuk perkebunan sawit di Kalbar”6
Pernahkah mendengar berita tersebut?? Mungkin yang belum membaca bisa mencarinya di link yang saya cantumkan. Ternyata  bulan februari silam, seorang dosen IPB didapati membawa 28 serak jawa, tanpa surat keterangan sehat dari balai karantina. Tanggapan dari gubernur Kalbar yaitu “”Pak Gubernur tidak ada masalah. Katanya tahan dan musnahkan saja,” ujar Azmal sambil menunjukkan pesan singkat via seluler dari Gubernur”. Kekhawatiran itu muncul dari ketakutan atas flu burung, notabene kalimantan barat bebas flu burung.
Apa tanggapan anak kedokteran hewan?
Sedikit gambaran bahwasanya pemindahan suatu hewan ke wilayah tertentu harus melalui Balai Karantina. Hewan harus memilki surat keterangan sehat yang diberikan dan ditandatangani oleh DOKTER HEWAN. Sebenarnya kesalahannya itu. Mengenai hewan yang tidak bersurat bukan berarti langsung dimusnahkan. Namun ada prosedural lanjutan dan hukuman atas pelanggaran birokrasi tersebut. Memang benar bahwa ada kekhawatiran atas ancaman penyakit. Namun hal tersebut harus dibuktikan secara medis. Pada dasarnya niat pemanfaatannya ada, akan tetapi proseduralnya salah.
Ternyata mempelajari mengenai berbagai macam hewan dengan benar memang penting. Hal ini akan menjadi suatu pegangan bagi dokter hewan dalam memberikan pencerahan bagi masyarakat
Manungsa mriga satwa sewaka
CELEPUK REBAN
KARAKTERISTIK
Mengenai celepuk reban saya tidak akan berbicara  banyak. Hanya menekankan bahwasanya dia berbeda dengan serak jawa. Tubuh berukuran kecil (20 cm). Tubuh atas berwarna keabu-abuan atau coklat pirang; berbintik dan berbintil hitam dan kuning tua. Ciri khasnya adalah berkas telinga mencolok7. Kerah khas warna pucat pirang. Tubuh bawah kuning tua, bercorethitam Hewan inilah yang menjadi maskot dari Introvet 2011.
HABITAT
Hewan ini bisa ditemukan di tenggeran rendah atau pohon, sambil bersuara. Sewaktu-waktu berburu dari tenggeran dan menyambar mangsa di tanah. Bersarang pada lubang pohon, pelepah daun palem, atau dalam rumpun bambu. Tersebar di perkotaan, perkebunan, hutan hingga 1600 m dpl 7.
IPB DAN CELEPUK REBAN  (Otis lempiji)____KEBERADAAN
Jelas sekali daris egi habitat, ukuran, karakteristik sangat berbeda dengan serak jawa. Jujur hingga saat ini saya belum pernah berjumpa dengan Otis lempiji. Namun beberapa teman dari Fahutan menyatakan bahwa burung ini perjumpaannya susah, dan pernah ditemukan di IPB. Ukurannya ralatif kecil, habitannya juga di sarang gelap pohon. Kalaupun ditemukan, pengambilan gambarnya relatif susah.
Kita ketahui bersama bahwasanya celepuk reban dan serak jawa adalah dua spesies berbeda dengan karakteristiknya berbeda. Keduanya memiliki potensi pemanfaatan juga. Artikel lebih lengkap tentang celepuk reban akan saya buat jika saya mendapat sumber pustaka yang cukup. Jujur hingga detik ini belum saya dapatka, agak susah juga mengaitkan dengan kedokteran hewan.
FKH DAN CELEPUK REBAN 
Fkh dan celepuk reban kini diikatkan oleh ikatan batin generasi 47- 2010 . generasi ini disebut generasi Celepuk reban. Saatnya mereka yang menjelaskan makna dari celepuk reban itu sendiri. Mencari suatu makna dan ilmu tidak dalam waktu singkat, tidak dari bangku formal. Semuanya masalah waktu, dan ketekunan kita melihat ilmu pengetahuan yang menyebar dimana-mana dengan segala bentuk. Pesan HIMPRO ORNITHOLOGI DAN UNGGAS adalah teruslah belajar dari alam dan setiap hari-harimu akan pentingnya kita berada di FKH.
Selamat datang celepuk reban
Sumber pustaka
1.      1 .Sayogo.P.S. 2010. Burung-Burung di kampus IPB Dramaga. Bogor : koleksi pribadi.
2.      2.   http://www.scientific-web.com/en/Biology/Animalia/Chordata/Aves/TytoAlba01.html.  [2 agustus 2011]
4.     4.  Kuswardani. R. A. 2006. Evaluasi Hasil Introduksi Tyto Alba Javanica , Pemangsa Tikus di Ekosistem Persawahan Kabupaten Kendal Jawa Tengah.   Jurnal penelitian bidang ilmu pertanian.IV(2): 63-69.
5.       5.  http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/143164/0  [2 agustus 2011]
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *