" />
Himpro Ornithologi dan Unggas FKH IPB

AMANKAH, ALTERNATIF PEMACU PERTUMBUHAN?

AMANKAH, ALTERNATIF PEMACU PERTUMBUHAN?

From : INFOVET
Date  : Thursday, August 18, 2011

Membahas penggunaan bahan pemacu pertumbuhan seakan tak kan pernah ada habisnya. Seperti hasil wawancara Infovet dengan Drh Abadi Sutisna Ketua Dewan Kode Etik Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI).
Menurut Abadi, demikian sapaan akrabnya, definisi growth promotor adalah zat aditif yang ditambahkan kedalam pakan untuk mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan produktivitas. Selama ini bahan yang biasa digunakan sebagai pemacu pertumbuhan adalah antibiotik, hormon, dan acidifier. Namun dari ketiga bahan tersebut masih ada bahan lain seperti obat herbal, imunomodulator, probiotik dan prebiotik yang fungsinya mirip meskipun cara kerjanya berbeda, yaitu bisa melalui penyehatan saluran pencernaan atau penguatan sistem kekebalan tubuh yang tujuannya untuk meningkatkan kesehatan dan bermuara pada percepatan pertumbuhan dan peningkatan produktivitas.
Menurut Abadi, obat-obatan seperti obat herbal telah lama digunakan peternak namun hanya sedikit yang terdaftar di Departemen Pertanian sehingga efikasi obat tak resmi (baca: tak terdaftar) tersebut diragukan, sebagai contoh obat herbal asal India yang beredar di pasaran Indonesia. Dari pantauan Abadi, obat herbal yang berbahan dasar seperti kunyit, jahe, temulawak memang terbukti memberi khasiat secara empiris karena bahan-bahan tersebut telah lama digunakan dalam pengobatan manusia dan terbukti efikasinya.
Namun, Abadi menegaskan bahwa kebanyakan obat herbal tersebut aksinya meningkatkan nafsu makan yang juga memicu pertumbuhan. “Sementara untuk imunomodulator kerjanya lebih kepada memodulasi sistem kekebalan namun kekebalan yang ditimbulkan bisa jadi naik bisa juga turun sesuai dengan prinsip modulasi yang bergelombang naik dan turun. Namun karena pengertian masyarakat cenderung pada peningkatan sistem kekebalan ya sudah kita terima saja persepsi tersebut. Dengan meningkatnya sistem kekebalan tubuh praktis bila kuman dan bakteri patogen masuk kedalam tubuh bisa ditangkal dan mencegah hewan menjadi sakit,” jelas Rektor Universitas Djuanda Bogor ini.
Sementara untuk jenis alternatif pemacu pertumbuhan yang lain seperti misalnya probiotik, Abadi menjelaskan bahwa probiotik hanya berfungsi untuk menyeleksi pertumbuhan bakteri yang baik dalam saluran pencernaan. Biasanya bahan aktif probiotik hanya berisi bakteri saprofit, bakteri asam, enzim atau elektrolit yang bertugas menyeimbangkan populasi bakteri baik sehingga proses pencernaan optimal.
Lain lagi dengan prebiotik yang fungsinya justru memperbaiki lingkungan pencernaan dengan menyediakan makanan bagi bakteri baik. Tujuannya agar bakteri baik dapat tumbuh dan menekan keberadaan bakteri patogen dalam saluran pencernaan. Muaranya tentu peningkatan pencernaan dan penyerapan pakan. Prebiotik tidak hanya digunakan di peternakan tetapi telah lama juga digunakan pada manusia dan budidaya ikan tambak.
Abadi menekankan, khusus untuk penggunaan antibiotik growth promotor yang diizinkan Pemerintah Indonesia Cq Deptan, tidak memiliki waktu paruh (withdrawal time) karena antibiotik yang dipilih diizinkan digunakan adalah antibiotik yang tidak diserap oleh usus. “Artinya antibiotik ini bekerja hanya membunuh bakteri patogen dan numpang lewat saja di usus. Sehingga AGP ini sama sekali tidak ada risiko terakumulasi di organ tubuh ternak,” ujar Abadi.

Pro dan Kontra
Ada dua blok yang pro dan kontra dengan penggunaan AGP ini, yaitu Amerika yang mengizinkan semua jenis antibiotik digunakan untuk memacu pertumbuhan dan Uni Eropa yang melarang penggunaan antibiotik jenis apapun untuk memacu pertumbuhan. “Posisi pemerintah Indonesia berada ditengah-tengah. Bila kita menganut paham Eropa maka kita akan diajak ke sidang WTO oleh Amerika. Sementara kalau kita menganut paham Amerika konsekuensinya sampai mati pun kita tidak akan bisa mengekspor produk peternakan kita ke Eropa,” jelas Abadi Sutisna.
Abadi Sutisna yang juga anggota Komisi Obat Hewan Departemen Pertanian ini memberikan solusi dengan membolehkan penggunaan antibiotik pada ternak dengan syarat:1) Antibiotik yang digunakan harus aman buat manusia, hewan dan lingkungan; 2) Antibiotik memiliki efikasi yang bagus; dan 3) Antibiotik harus bermutu baik.
Setelah lolos dari ketiga syarat tersebut untuk bisa diizinkan sebagai bahan pemacu pertumbuhan, antibiotik yang dipilih sebagai growth promotor harus juga memenuhi syarat sebagai berikut: Pertama, antibiotik yang digunakan pada ternak adalah yang tidak digunakan pada manusia, khususnya untuk mencegah resistensi bakteri pada manusia. Kedua, sifat antibiotik harus tidak diserap oleh usus. Ketiga, dosis penggunaannya sangat kecil yaitu antara 1-2 ppm atau 1-2 kg per ton pakan. Keempat, sifat antibiotik harus mudah terdegradasi oleh alam.
“Oleh sebab itu hanya 7 jenis antibiotik saja yang boleh digunakan sebagai growth promotor dari sekian banyak antibiotik, sebagai contoh zinc bacitracin, virginiamycin, dll,” ungkap Abadi.
Abadi menjelaskan, “Mau tidak mau kita tetap harus menggunakan antibiotik, karena sistem peternakan kita yang masih setengah tradisional (open house). Jangan bandingkan dengan sistem peternakan di Eropa yang serba closed house, sementara kandang di peternakan kita kondisinya sangat mudah terkontaminasi kuman dari luar. Khusus untuk produksi unggas konsumsi secara massal tetap masih harus menggunakan cara lama, karena kalau mau yang serba steril menyebabkan harga produknya menjadi sangat tidak terjangkau, kecuali untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor luar negeri yang menuntut produk bebas antibiotik.”
Secara umum, pengaruh penghentian penggunaan AGP terhadap produktivitas, sangat tergantung kondisi higienis di areal peternakan. Jadi, langkah pertama yang harus dilakukan peternak adalah menciptakan standar kondisi higienis yang tinggi pada farmnya, seperti mengimplementasikan sistem all in all out dan membatasi serta mengawasi dengan ketat lalu lintas pekerja dan peralatan, untuk mencegah penyebaran penyakit diantara ternak.
“Kalau mau lebih aman, peternak sebaiknya menyetop pemberian pakan ber-AGP 2-3 hari sebelum panen agar produk daging unggas yang dihasilkan nanti benar-benar bersih dari residu antibiotik,” saran Abadi.
Bahkan dari penelitian Syamsul Bahri dkk (2005) disarankan penggunaan pakan yang mengandung antibiotik harus dihentikan atau diganti dengan pakan bebas antibiotik pada sekitar satu minggu sebelum ternak dipanen, sedangkan untuk sapi perah yang sedang laktasi harus dicegah pemberian pakan yang mengandung obat hewan.
Sementara itu, contoh penggunaan bahan pemacu pertumbuhan pada ternak sapi adalah yang dilakukan Australia terhadap sapi bakalan yang diekspor ke Indonesia. Australia telah lama menggunakan hormon pemacu pertumbuhan pada sapi bakalan ekspornya, namun Pemerintah kita mensyaratkan 100 hari sebelum pengapalan penggunaan hormon pertumbuhan tersebut telah dihentikan. Sehingga cukup waktu untuk menghilangkan residu hormon pertumbuhan dalam tubuh sapi bakalan impor tersebut.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *