" />
Himpro Ornithologi dan Unggas FKH IPB

LAPORAN MAGANG HIMPRO ORNITHOLOGI DAN UNGGSA DI PETERNAKAN AYAM PETELUR TENJOLAYA FARM TANGGAL 4-11 JULI 2011

LAPORAN MAGANG HIMPRO ORNITHOLOGI DAN UNGGSA DI PETERNAKAN AYAM PETELUR TENJOLAYA FARM TANGGAL 4-11 JULI 2011

Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Mengisi liburan dapat dilakukan dengan berbagai cara, pergi berekreasi ke tempat hiburan, pulang kekampung halaman atau hanya diam diri di rumah. Tapi yang lebih baik yang kita dapat lakukan saat liburan adalah mengikuti kegiatan magang. Magang  akan menambah wawasan pada kondisi di lapangan yang tidak didapatkan pada  perkuliahan.
Himpunan profesi ornitologi dan unggas mengadakan magang di peternakan ayam petelur Tenjolaya Farm yang berada Cicurug, Sukabumi. Peserta yang mengikuti magan berjumlah empat mahasiswa semester 4.
1.2  Tujuan
Kegiatan magang yang kami lakukan bertujuan untuk mengisi waktu hiburan dengan sesuatu yang bermanfaat serta ingin memepelajari bagaimana manajemen kandang dan kesehatan ayam petelur di peternakan.
1.3  Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari kegiatan magang ini adalah menambah wawasan dibidang peternakan ayam petelur secara study lapang.
2. Tinjauan Pustaka
Sistem Perkandangan dan pemeliharaan
Berdasarkan keterlibatan manusia dama pengelolahan, sistem pemeliharaan ternak unggas digolongkan menjadi tiga sistem (Suprijatna 2008), yaitu :
a.       Sistem ekstensif
Ayam dipelihara di suatu padang umbaran yang luas, tempat ayam melakukan segala aktifitasnya. Kebutuhan pakan hampir seluruhnya diperoleh dari padang umbaran. Padang umbaran hanya dilengkapi dengan tempat naungan untuk berteduh serta menghindari hujan dan panas, tidak ada kandnag secara khusus.


b.      Sistem semiintensif
Ayam dipelihara di padang umbaran yang terbatas. Kandang disediakan untuk memenuhi sebagian besar kebutuhannya, seperti makan, minum, bertelur, berteduh, dan tidur. Padang hanya untuk melakukan untuk melakukan exercise, berjemur dan mencari pakan tambahan.
c.       Sistem Intensif
Ayam dipelihara secara terbatas dalam kandang. Aktivitasnya sangat terbatas di dalam kandang. Semua kebutuhan hidupnya tergantung pada yang disediakan oleh pengelolah (peternak).
Kandang memiliki fungsi sebagai tempat tinggal bagi unggas agar terlindung dari pengaruh-penagruh buruk iklim (hujan, panas dan angin) sertagangguan lainnya. Selain itu, kandang berfungsi menyediakan lingkunagan yang nyaman agar terhindar dari cekaman (stress). Dalam pembangunan kandang harus memerhatikan tiga faktor penting yaitu faktor biologis berkaina dengan aspek lingkungan dan respon ternak terhadap lingkungannya, faktor teknis / engineering berkaitan dengan aspek teknis bangunan meliputi konstruksi bangunan, bahan, dan tata letak bangunan. Serta faktor ekonomis berkaitan dengan aspek biaya dan efisiensi penggunaan bangunan.
Faktor-faktor yang memegaruhi produksi telur
Telur pada ayam merupakan upaya untuk mempertahankan keturunannya. Dalam produksi telur ayam ini memiliki banyak faktor yang memengaruhi, misalnya faktor dalam dan faktor dari luar.
a.       Faktor dalam
Faktor dalam yaitu faktor genetik dari ayam petelur. Karena faktor keturunan sulit diatasi maka dalam pemilihan bibit diarahkan kepada tiga sifat ekonomis yaitu, pertumbuhan cepat, daya hidup baik dan produktvitas tinggi.
b.      Faktor luar
Faktor luar yang memengaruhi proses telur yaitu ransum, perkandangan, temperatur lingkungan, rontok bulu atau molting, stress dan penyakit. (Yasin 1988)


1.      Ransum
Ternak membutuhkan zat-zat yang terkandung dalam pakan agar dapat memenuhi nutrisi dalam tubuhnya. Kurangnya pemberian pakan dan salah dalam pemberian pakan akan berpengaruh besar pada ayam yang bertelur.
2.      Perkandangan
Keadaan kandang yang panas, sempit dan sebagainya akan mengurangi ketenangan ayam dan mendorong ayam bersifat kanibalisme. Keadaan lanyai kandang yang lembab dapat menyebabkan banyak penyakit, seperti Coccidiosis, cacar, cacing dan sebafgainya. Keseluruhan dapat memengaruhi produksi telur yang baik.
3.      Temperatur lingkungan
Suhu lingkunagan yang terlalu tinggi atau rendah dapat menurunkan produksi telur. Jika suhu meningkat ayam akan mengurangi makan dan menambah minumnya. Pada saat ini suhu ini, telur akan menjadi kecil. Ayam petelur mampu bereproduksi tinggi dengan efisiensi maksimal pada suhu 12.8oC dimana setiap Kg ransum yang dihabiskan menghasilkan telur sebanyak-banyak.
4.      Rontok bulu (Molting)
Rontok bulu atau Molting merupakan keadaan fisiologis normal ayam. Rontok bulu bagi ayam dimulai berturut-turut dari kepala, leher, dada, badan, sayap, dan ekor. Bila perontokan bulu ini sampai badan dan sayap, biasanya ayam berhenti bertelur. Sedangkan masa pertumbuhan bulu yang baru kurang lebih enam minggu.
5.      Penyakit
Ayam menderita penyakit akibat suatu infeksi bakteri, virus, parasit dan defisiensi makanan dan ini menyebabkan telur akan menurun.
6.      Stress
Stress adalah tekana jiwa yang berat akibat pengaruh buruk atau keadaan yang merugikan yang menimpa diri ayam. Pengaruh buruk tersebut antara lain pergantian iklim yang mendadak, pindah kandang, ayam sering dipegang, diineksi, dan gangguan ektoparasit. Hal itu semua akan menyebabkan produksi telur menurun.


1.       PENGENALAN PETERNAKAN AYAM PETELUR
Peternakan Tenjolaya Farm merupakan peternakan ayam petelur  jenis Hisex Brown. Peternakan ini merupakan cabang dari perusahaan  PT. Mensana Aneka Satwa. Lokasi peternakan ini daerah pegunungan di desa Tenjolaya, Cicurug, Sukabumi. Peternakan tersebut memiliki jumlah pekerja sebanyak 25 orang termasuk kepala kandang, penjualan, penyortiran telur, pakan, dan pekerja kandang.
Peternakan ini memiliki kandang postal sebanyak 4 kandang dan kandang baterai. Kandang postal (kandang panggung) diperuntukan untuk ayam berumur 1 hari sampai 16 minggu. Sedangkan kandang baterai diperuntukan untuk lebih dari 16 minggu. Kandang postal yang tersisi sebanyak 2 kandang, sedangkan kandang baterai yang tersisi 8 buah. Kandang yang terisi digunakan untuk kandang rotasi.
 Kandang postal memiliki panjang 40 m dan lebar 9 m. Setiap 1 kandang postal dirawat oleh satu pekerja yang bertugas memberikan pakan, mengganti air minum dan mengatur alat suhu ruangan. Kandang baterai sudah tidak dilengkapi dengan penghangat ruangan dan lampu.  Kandang ini juga memiliki satu penanggung jawab yang bertugas dalam pemberian pakan, pengambilan telur, dan mengontrol kesehatan ayam. Selain itu peternakan dilengkapi dengan gudang sortir telur, kantor pemasaran, kantor kepala kandang, gudang penyimpanan dan pencampuran pakan, serta penginapan pegawai peternakan.
2.      PROGRAM MANAJEMEN KANDANG POSTAL DAN PETELUR
a.       Program manajemen kandang postal
DOC (Day Old Chiken) diletakan di kandang postal. kandang terlebih dahulu dibersihkan seminggu sebelum DOC masuk. Pembersihan kandang meliputi pembuangan sekam dan manur ayam sebelumnya yang terlebih dahulu di berikan serbuk kapur. Lantai kandang panggung yang terbuat dari bambu disikat dan dibersihkan dengan desinfektan. Setelah bersih alas kandang dilapisi terpal dan ditaburi sekam setebal 5 cm dan ditaburi serbuk kapur.  Kemudian disemprot desinfektan kembali dan alas sekam tersebut dilapisi koran.
Seluruh  dinding dan atap kandang ditutupi oleh terpal dimaksudkan untuk menjaga temperatur ruangan. Kandang tersebut diberikan sejumlah lampu bohlamp 25 watt dan pemanas ruangan dengan bahan bakar gas. Tiga jam sebelum DOC dimasukan lampu dan pemanas gas dinyalakan untuk penyesuaian suhu ruangan yang optiamal bagi DOC.
Pakan  ditabrui diatas koran, sedangkan air minum diberi campuran gula dan jahe di tempatkan pada tempat minum. Campuran gula dan jahe diberikan untuk memberikan energi dan menghangatkan DOC karena lokasi perternakan yang dingin.
Saat DOC datang dilakukan penimbangan secara sampling. Setalah hari kedua ayam diberiakan antibiotik spektrum luas. Pemberaian antibiotik bertujuan untuk membersihkan penyakit bawaan dari induk. Selanjutnya, ayam diberikan obat dengan dosis rendah dan vaksinasi secara berkala.
Ayam yang tinggal di kandang postal adalah ayam fase starter dan grower. Saat ayam berumur 1 dan 2 hari, pemanas ruangan dan lampu dinyalakan selama 24 jam. Pakan diberikan 2 kali sehari yaitu pada pagi hari sekitar 40 % pakan dan sisanya pada siang hari.
Ayam berumur 5 sampai 6 minggu mulai dibiasakan untuk beradaptasi dengan cuaca dingin. Sekam akan diturunkan ke bawah dan terpal secara berangsur dibuka. Semakin bertambah umur ayam, sekat-sekat diperlebar dan paka diganti dengan pakan yang diolah di peternakan tersebut. Pakan untuk starter dan grower memiliki perbandiang protein yang berbeda. Protein untuk grower lebih rendah.
Pergantian pakan pabrik dan olahan memungkinkan ayam menjadi stres. Oleh karena itu, pergantian pakan dilakukan secara bertahap. Mulai dari perbandingan 75% pakan pabrik dan 25% pakan olahan, 50% pakan pabrik dan 50% paka olahan pada hari kedua, 25% pakan pabrik dan 75% pakan olahan pada hari berikutnya, dan yang terakhir 100% menggunakan pakan olahan di peternakan tersebut.
Program pencahayaan biasanya dilakukan pada kandang untuk ayam fase strater dan grower. Pencahayaan ini bertujuan untuk mencapai kematangan seksual pada ayam. Penggunaan lighting dikurangi seiring dengan pertambahan umur. Pengurangan ini dilakukan untuk mencapai feed in take standar.
b.      Program manajemen kandang petelur atau produksi
Persiapan kandang produksi hampir sama dengan persiapan kandang postal. Kandang yang digunakan berbentuk panggung dan berupa kandang baterai. Tidak dilapisi tirai di sisi dindingnya. Untuk memungkinkan sirkulasi udara yang baik pada masa produksi.
Ayam yang masuk sebelumnya dikelaskan ayam dengan bobot tubuh besar dimasukan dalam kandang untuk 2 sampai 3 ekor ayam. Tingkatan ini bertujuan untuk memudahkan perawatan ayam agar diperoleh bobot tubuh seragam.
Selama 3 hari pertama, air minum diberikan vitamin elektrorit antistres. Pakan diberikan sebanyak 40% pada pagi hari dan 60% pada siang hari. Ayam diberikan tepung batu (Grit) sebanyak 2 gram/ekor tiap minggunya. Grit ini berfungsi untuk membantu pencernaan dan membuat keranbang telur menjadi keras.
Ayam mulai berproduksi rata-rata pada umur 20 minggu. Selama ayam belum berprodusi, ayam diberikan perawatan intensif untuk menjaga bobot tubuh seragam. Pengambilan telur dilakukan sebanyak 3 kali sehari yaitu pada waktu pagi, siang, dan malam hari. Persentase produksi telur dapat menjadi indikator dari kesehatan ayam. Hal yang terpenting dalam manajemen kadang pada dasarnya ada 3, yaitu sanitasi, kualitas pakan, dan perataan pakan.
Kandang produksi tidak terlalu memerlukan pencahayaan. Hal ini dilakukan untuk efisiensi dan pengurangan jumlah energi yang terbuang. Setelah diuji cobakan pada peternakan ini. Ternyata mampu mengurangi tingkat mortalitas. Tidak adanya pencahayaan pada kandang produksi diimbangi dengan pemberian pakan yang mencukupi nutrisi kebutuhan ayam.
3.      PROGRAM VAKSINASI AYAM PULLET DAN PRODUKSI
Vaksinasi merupakan suatu aktivitas memasukkan agen penyakit (virus, bakteri, protozoa) yang telah dilemahkan ke dalam tubuh ayam (Fadilah, 2005). Tingkat antibodi dalam darah ayam akan meningkat, sehingga akan memiliki kekebalan tubuh yang kuat untuk melawan penyakit.
Terdapat tiga tipe vaksin, diantaranya vaksin virus hidup (live virus vaccine), vaksin yang dilemahkan (attenuated vaccine), dan vaksin yang dinatikan (killed vaccine). Virus dalam vaksin masih hidup memiliki kemampuan lengkap untuk menghasilkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Virus dalam vaksin yang dillemahkan menghasilkan kekebalan tubuh untuk melawan penyakit yang lebih ringan. Virus dalam vaksin yang dimatikan tidak memiliki kemampuan untuk menularkan penyakit pada ayam, namun memiliki kemampuan untuk memproduksi antibodi ketika vaksin digunakan.
Cara pemberian vaksin diantaranya dengan meneteskann vaksin ke  mata ayam (intra-ocular), meneteskan vaksin ke dalam llubang hidung (intranasal), melalui mulut dengan cara dicekok (intra-oral), menyuntikkan ke otot (intramuscular), menusukkkan jarum di sekitar selapput sayap ayam dari arah bagian dalam sayap (wing web), menyuntikkan vaksin di bawah kuliy (subcutaneous), penyemprotan (spray) melalui air minum (drinking water), dan mencamppur dengan pakan (feeding).
Pemberian vaksinasi dimulai saat ayam berumur  5 hari. Program vaksin didasarkan pada riwayat penyakit yang pernah menjangkiti wilayah tersebut. Penyortiran didasarkan pada ukuran ayam, ayam yang berukuran lebih kecil akan diberikan perawatan intensif.
Jika terjadi wabah penyakit tertentu pada peternakan, ayam yang terkena penyakit akan dipisahkan dari yang sehat. Ayam yang mati akibat penyakit akan dibakar atau dikubur. Sementara ayam yang sehat akan divaksinasi ulang (revaksinasi).
Salah satu contoh penyakit yang biasa menyerang peternakan Tenjolaya adalah ND (Newcastle Disease). Oleh karena itu, revaksinasi ND yang standarnya dilakukan 3 bulan sekali, pada peternakan ini diaplikasikan menjadi 6 sampai 8 minggu sekali. Program pemberian vaksin, obat, dan vitamin dapat dapat dilihat dari tabel yang terlampir.
4.      PROGRAM PERMBERIAN OBAT DAN VITAMIN
Pemberian obat yang pertama kali diberikan saat ayam berumur 2 hari yaitu antibiotik spektrum luas, sedangkan vitamin yang diberikan adalah vitamin antistres. Pembiran antibiotik juga didasarkan pada riwayat kesehatan induk saat ditetaskan. Vitamin antistres dimaksudkan untuk mencegah terjadinya stres saat pengangkutan.
Program pemberian obat dilakuakan setiap minggu dengan jenis obat yang bervariasi. Obat yang biasanya diberiakan berupa antibiotik, obat  pernapasan, obat cocci, dan obat pencernaan. Vitamin yang biasanya diberikan  adala vitamin asam amino dan vitamin antistres. Vitamin antistres biasanya diberikan setelah dilakukan vaksinasi yang dapat menyebabkan  stres seperti vaksinasi Pox, Coryza II, AI II, ND CDS/ IB, dan Coryza III.


Obat dan vitamin yang diberikan biasanya lewat air minum. Ayam starter dan grower diberiakan obat dan vitamin dengan dosis rendah. Sehingga jika terjadi kejadian penyakit, obat dapat diberikan dengan dosis yang lebih tinggi. Berikut ini bahan aktif yang diberikan.
Obat pernapasan
Obat Quinolon
Obat pencernaan
Doxyiclin
Enrofloxcine
Trimetroprim
Erytromycin
Norfloxacine
Sulfadasine
Streptomycin
Flumequin
Neomycin (Sulfate)
Tylosin
Danofloxacine
Oxytetracycline
Amoxycyline
Ciprofloxacine
Colistin (Sulfate)
Amoxycyline
Ampycyline
  1. Program pemungutan telur
Telur mulai diproduksi saat ayam berumur kurang-lebih 20 minggu. Saat pertama kali bertelur memiliki ukuran telur yang kecil, sehingga disebut terlur super. Ayam  dapat bertelur dengan ukuran normal sekitar 3 bulan setelah mulai bertelur.
Tiap ayam dapat menghasilkan 1 butir telur perhari ( kurang lebih 25 jam). Hal ini menyebabkan produksi telur tidak dapat mencapai 100% pertahun. Setelah pengambilan telur, hasil produksi dilaporkan kepada kepala kandang. Hasil produksi ini dapat menjadi indikator dari masalah yang terjadi pada ayam petelur.
Ayam dapat memproduksi telur sampai umur 80-85 minggu. Seiring dengan meningkatnya umur ayam, laju produksi telur akan mengalamin penurunan. Ayam yang tidak dapat berproduksi, biasanya dijual sebagai ayam apkir.
Cara mengetahui ayam sudah dapat berproduksi atau belum, dapat dilihat dari lubah kloaka dan jengger ayam tersebut. Kloaka ayam yang sudah dapat berproduksi biasanya berukuran dua jari orang dewasa. Jengernya sudah panjang. Kadang-kadang ayam yang sudah berumur 20 minggu belum dapat menghasilkan telur karena bobot tubuh ayam belum optimal untuk bertelur. Oleh karena itu, ayam yang bobot tubuhnya belum optimal biasanya diberikan perawatan intensif.
Setelah pemungutan telur, maka perlu dilakukan persiapan pascaproduksi. Persiapan pascaproduksi diawali persipan gudang, penyortiran, penyusunan, dan pencatatan. Persiapan gudang meliputi pengontrolan peti telur, perbaikan peralatan pemasangan alas koran dan sekam pada peti, serta penimbangan peti.
Penyortiran dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Penyortiran telur didasarkan pada ukuran dan kondisi telur. Telur berukuran kecil atau telur super disusun menjadi 10 trey/peti. Telur ukuran normal disusun menjadi 7 trey/peti (1 trey sama dengan 36 butir telur). Telur yang pecah, abnormal, dan kotor juga dipisahkan untuk menjaga kepuasan konsumen.
Setelah diadakan penyortiaran, perlu dilakukan penyusunan peti telur. Penyusunan ini bertujuan untuk mencegah telur tersimpat terlalu lama digudang. Telur-telur biasanya langsung dipasok ke agen atau dijual eceran. Telur tidak disimpan lebih dari tiga hari di gudang, mengingat telur mudah mengalami kerusakan.
Telur-telur tersebut setelah disusun atau dipasok biasanya dicatat. Pencatatan dilakukan berdasarkan jumlah butitr dan berat telur (kg). Telur yang dicatat adalah telur dalam keadaan utuh, telur pecah, dan telur yang abnormal. Catatan ini dapat menjadi indikator persentase produksi telur.


6.      PROGRAM DIAGNOSA SEMENTARA PENYAKIT
Indikator timbulnya penyakit pada peternakan diketahui dari gejala klinis yang tampak dan penurunan produksi telur. Penyakti yang sering timbul di peternakan ini adalah ND, Colera, dan CRD (Chronic Respiratory Disease).
Gejala klinis yang dapat dilihat dari penyakit ND antara lain feses berwarna hijau kekuningan, jika sudah parah kepala ayam akan terpelintir. Penurunan produksi akibat penyakit ini seragam dan terus menerus. Telur dari ayam yang terserang ND berwarna putih kertas, kerabangnya rapuh, dan memiliki bercak. Selain itu telur dari ayam yang terserang ND akut biasanya kerabangnya lunak.
Cholera adalah sejenis penyakit pernapasan yang disebabkan oleh bakteri gram negatif. Gejala klinis yang dapat dilihat adalah jengger biru dan feses berwarna hijau tua. Penyakit CRD juga menyerang sisterm pernapasan. Gejalanya yaitu adanya penumpukan carian di sinus.
Penyakit lain yang menyerang ayam layer di Tanjolaya Farm adalah IB atau Gumboro. Penyakit ini menyebabkan penurunan drastis produksi telur dan tidak seragam.
Gejala klinis dari penyakit IB juga bisa dilihat dari telur yang dihasilkan. Telur dari ayam yang terserang IB biasanya berbentuk tidak normal dan kuning telurnya encer. Kasus lain yang sering ditemukan diperternakan ini adalah permukaan pada kloaka sehingga bagian saluaran pencernaan dan saruran reproduksi keluar. Hal ini disebabkan kanibalisme dan prolapsus. Kasus ini umum ditemukan pada ayam petelur yang masih belajar bertelur (muda). Ayam layer muda biasanya mengalami pematangan seksual namul bobot baban (BB) belum mencapai standar. Lah ini menyebabkan ayam petelur rentan prolapsus.( Polana 2005)
Wabah penyakit ND dan IB dipeternakan Tenjolaya kadang hanya menyerang sebagian kecil ayam, tapi kadang merata dalam satu kandang. Jika gejala klinis dari penyakit ND dan IB meragukan, dapat dilakukan tes lab untuk menentukan wabah yang sebenarnya terjadi. Setelah hasil keluar, baru dilakukan revaksinasi ulang. Jika wabah penyakit sudah parah namun hasil lab belum keluar, biasanya dilakukan revaksinasi ND setelah itu revaksinasi IB. Hal ini disebabkan vaksin IB dapat kalah dari vaksin ND.
Infectious Bronchitis (IB) disebabkan oleh virus family Coronaviridaae dan genus Coronavirus yang memiliki sifat penularan tinggi. Penyakit ini bersifat akut dan menyerang salluran pernapasan, namun juga dapat menyerang saluran reproduksi. Masa inkubasi penyakit 18-36 jam. Ayam sehat yang berada di lingkungan ayam yang terinfeksi, akan menampakan gejala infeksi dalam jangka waktu 48 jam. Penularan melalui kontak langsung antara ayam dan ayam atau melalui udara, manusia, dan burung, selain itu juga melaui peralatan atau pakan. ( Polana 2005)
Anak ayam yang terserang penyakit ini mengalami gangguan pernapasan hebat, seperti batuk-batuk, napas terengah-engah, dan bersin. Anak ayam menampakkan gejala lemah, mata berair, depresi, dan bergerombol dekat pemanas. Penyakit ini menyebabkan kematian 50-60%.
Ayam produksi atau ayam potong yang kena penyakit ini menunjukkan gejala batuk, bersin, ngorok, di bagian hidung dan rongga sinus terdapat cairan berlendir, serta di daerah trachea (tenggoroka) dan bronchi (cabangtenggorok) berwarna merah dan terdapat lendir atau sumbatan berdarah. Selain itu, terjadi arsaculitis bersamaan dengan munculnya penyakit ikutan (secondary bacterial infectious). Penyakit ini dapat menurunkan produksi ayam peteelur hiingga 50%. Selain itu, terjadi pendarahan di ovariumm dan terdapat lesion di saluran telur (oviduct). Telur yang dihasilkan dari telur berpenyakit ini memiliki ciri kerabang telur abnormal, tipis, kasar, berkeerut membentuk lingkaran, dan kuallitasnya jelek. Putih telur sangat encer.
Avian Influenza (AI) atau penyakit flu burung disebabkan virus genus orthomyxoviruses dan memiliki tiga tipe yaitu tipe A, B, dan C. Virus ini menyerang bagian pernapasan atau system saraf. Tingkat kematian bisa mencapai 100%. Virus ini dapat ditularkan melalui saliva dan kotoran ayam. Virus dapat hidup selama 4 hari pada suhu 22oC, bahkan bisa hidup lebih dari 30 hari pada suhu 0oC. Virus ini bisa mati pada suhu 80oC dalam waktu satu menit. ( Polana 2005)
Gejala yang tampak pada ayam yang terserang tergantung tingkat seranganya. Serangan akut menampakkan gejala adanya gangguan pernapasan seperti batu, bersin, dan terjaadi sinusitis. Selain itu mata berair, badan lemah, produksi telur menurun drastic, diare, terjaadi edema di bagian kepala dan muka, serta ayam tampak nervous. Penyakit ini akan menjadi lebih ganas bila diikuti penyakit fowl cholera atau colibacillosis. ( Polana 2005)
Luka (lesion) sangaat bervariasi tergantung dari tingkat serangan virus tersebut. Namun, umumnya terjadi inflamasi di daeerah trakea, sinus, kantung udara, dan conjunctiva. Jika ayam produktif layer terserang, akan terjadi regresi  pada indung telur dan terjaadi perubahan bentuk pada oviduct. Selain itu, terjadi congestive, hemorrhagic, dan necrotic  lesion. Gejala lain akan ditemukan adanya exudates fibrinous atau caseous di baagian kantung udara (air sac), saluran telur (oviduct), kantung penutup jantung (pericardial sac), atau di peritoneum. Terjadi edema di bagian mukosa trakea dengan exudateyang encer sampai kental. Di bagian kulit, jengger, pial atau hati, limpa, dan paru-paru akan ditemukan necrosis berbentuk bulat. ( Polana 2005)
Penyakit ini bisa menyebar dengan cara unggaas yang terjangkit AI mengeluarkan virus melalui saluran pernapasan, conjunctiva, dan kotoran. Penyakit menular melalui kontak langsung antara ayam yang sakit dengan ayam yang sehat, selain itu menular  melalui koontak tidak langsung melalui udara atau virus yang dikeluarkan melallui kotoran. ( Polana 2005)
Infectious Coryza (Coryza) disebabkan bakteri gram negatif Hemophilus paragallinarum. Coryza menyerang system pernapasan bersifat akut dan subakut. Masa inkkubasii 24-48 jan melallui intranasal dan intrasinus. Penyakit ini menyerang secara cepat dengan tingkat penularan tinggi. Penyakit ini menurunkan konsumsi pakan dan produksi telur. Akibat infeksi ini terdapat penyumbatan di bagian lubang hidung dan sinus sehingga ayam selalu menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai  upaya membebaskan sumbatan (aculonasal discharge). Selainitu terjadi conjunctivitis, napas berbunyi, pembengkakan di daerah mata, dan kadang mengalami diare. ( Polana 2005)
Newcastle Diseasse (ND) sering disebut penyakit tetelo atau avian pneumoencephalitis.  Masa inkubasi penyakit ini 2-15 hari tergantung virus yang menginfeksi, umur dan status kekebalan ayam, infeksi dengan organisme lain, kondisi lingkungan, dan jalur penularan. Berdasarkan sifat keganasannya, diklasifikasikan menjadi bersifat tidak menyebabkan penyakit (apathogenic atau asymptomaatic), ringan (lentogenic), sedang (mesogenic), ganas (velogenic atau neurotropic), dan sangat ganas (viscerotropic velogenic, exotic ND, dan asiatic type). ( Polana 2005)
Gejala ayam yang terserang penyakit ND diantaranya mati mendadak tanpa memperlihatkan gejala sakit, bulu tampak jatuh ke bawah, susah bernapas dan megap-megap, pembengkakan di bagian kepala dan leher, diare kehijauan, produksi menurun, kadang ditemukan bentuk telur abnormal, terjadi gangguan syaraf, dan tingkat kematian mencapai 50-100%.( Polana 2005)
Coccidiosis dikenal juga dengan istilah penyakit berak darah. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa genus Eimeria. Akibet penyakit ini ayam mengalami diare dan radang usus (enteritis). Coccidiosis menyeerang ayam muda dan terjadi di bawwah kondisi litter yang hangat dan kelembapan tinggi. Coccidiosis keluar melalui kotoran. Coccidia menjadi parasit yang hidup di jaringan epitel saluran sehingga menyebabkan kerusakan dinding usus. ( Polana 2005)
Infectious Bursal Disesase (IBD) lebih dikenal sebagai penyakit gumboro. Penyakit ini desebabkan virus family Birnaviridae. Gejala penyakit pada anak ayam umur 3-6 minggu diantaranya terjadi diare, feses berwaarna putih seperti pasta, ayam sering mematuk dubur, mengantuk, terjadi pembengkakan di daerah bursa fabricius. Penyakit ini menyerang secara cepat tetapi memiliki waktu penyerangan pendek. Virus gumboro bersifat stabil dan tahan hidup sampai beberapa bulan. ( Polana 2005)
Fowl Cholera penyakit ini disebut juga cholera atau pasteurellosis. Cholera disebabkan oleh Pasteurella multocida yang merupakan bakteri gram negatif. Penyakit in imenyerang secara akut dnegan tingkat terserang dan kematian sangat tinggi. Kalkun merupakan unggas yang paling rentan terhadap serangan cholera dibandingkan dengan ayam. Gejala ayam yang terserang cholera diantaranya terjadi anorexia, depresi, hidung, dan mulut berisi lendir, diare dengan cairan putih atau diare berwarna hijau (berak hijau). Kematian kadang-kadang timbul secara mendadak. ( Polana 2005)
Jika serangan cholera mengganas (akut), tingkat kematian ayam bisa mencapai 50% terutama ketika ayam berada di puncak produksi dan cuaca panas. Kadang-kadang ditemukan beberapa ayam yang kepalanya berputar-putar (toricollis). Cairan (exudates) tampak seperti keju dan sering menumpuk di daerah conjunctival sac atau daerah saluran mata (infraorbital sinus). Penyakit ini tidak disebarkan melalui telur tetas, sehinggga keturunan dari induk terinfeksi tidak tertular. ( Polana 2005)
Inclusion Body Hepatitis (IBH) dikenal juga dengan nama adenoviral infection. Penyakit IBH menyerang anak ayam secara mendadak dan serentak yang diikuti dengan peningkatan kematian secara drastic, anemia, dan hepatitis.. Gejala spesifik ayam yang terserang penyakit ini diantaranya pucat pada jenggeer, cuping, kulit, dan kulit wajah. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menghidari menetaskan virus dari breeding yang diduga terkontaminasii penyakit IBH. ( Polana 2005)
7.      PROGRAM PEMELIHARAAN KESEHATAN AYAM
Pemeliharaan kesehatan ayam pada peternakan ini ditekankan pada kekebalan tubuh ayam. Vaksinasi rutin dilakukan sampai ayam berumur 19 minggu, bahkan sampai 40 minggu untuk vaksin AI IV. Penyakit yang disebabkan bakteri biasanya dicegah dengan melakukan pemberian obat antibakteri (Ti-Dox) lewat air minum. Selain itu obat yang sering diberikan adalah obat pernapasan, obat Cocci, dan obat pencernaan. Vitamin yang diberikan antara lain vitamin asam amino, vitamin antistres dan kadang-kadang diberikan vitamin E, Selenium, dan zat Besi. Program pemberian vaksin dan obat dapat dilihat di tabel. Pemberian vitamin E, Selenium, dan zat Besi dilakukan saat umur 12 sampai 20 minggu.
Sebenarnya revaksinasi dapat dilakukan pada ayam umur lebih dari 40 minggu. Revaksinasi ini tergantung dari sejarah penyakit yang pernah timbul, keadaan aktual peternakan, dan kondisi ayam tersebut. Sebagai contoh, revaksinasi ND pernah dilakukan pada ayam yang berumur 70 minggu dan aktif berproduksi. Hal ini disebabkan peternakan Tenjolaya sangat rentan terhadap penyakit ND, sehingga perlu diadakan peningkatan kekebalan untuk ayam yang aktif berproduksi.
  1. SISTEM ADMINISTRASI TENJOLAYA FARM
Sistem administrasi di Tenjolaya Farm mencakup tiga bagian, yaitu administrasi gudang, administrasi recording DOC sampai fase grower, serta administrasi produksi.
Administrasi gudang meliputi penimbangan, pencatatan, stock telur, dan laporan. Telur yang diproduksi harus ditimbang terlebih dahulu dan dicatat sebelum dimasukan kegudang. Stock telur yang dicatat adalah stock awal (masuk), stock keluar, dan stock sisa akhir. Stock awal (masuk) adalah total telur dalam kondisi utuh dan pecah dalam satuan kg. Stock keluar adalah stock telur utuh dan telur pecah. Stock telur utuh terbagi atas telur yang dijual secara grosir, agen, dan eceran. Stock telur pecah juga dibedakan menjadi telur dapur, telur untuk dijual, dan telur untuk disumbangkan.
Stock awal dan masuk yang telah dikurangi dengan stock keluar adalah stock sisa akhir. Stock sisa akhir menjadi patokan stock telur yang tersimpan digudang. Semua stock ini dibuat sebagai laporan sehingga bisa dilihat pencapaian produksi telur yang diperoleh.
Administrasi recording DOC sampai dengan grower meliputi populasi, umur ayam, pakan, program obat dan vaksin, berat badan ayam, serta keseragaman. Pencatatan populasi berupa pencatatan ayam yang mati, apkir, dan sisa. Sedangkan pakan meliputi jenis pakan dan jumlah pakan dalam satuan garam untuk satu ekor ayam.
Program obat dan vaksin berhubungan erat dengan umur ayam. Pemberian obat dan vaksin disesuaikan dengan umur ayam baik dosis maupun jenis yang diberikan. Bobot ayam yang perlu dicatat adalah BB aktual dan BB standar.  Hal yang lain yang perlu dicatat adalah keseragaman.
Administarsi produksi hampir sama dengan administrasi recoding DOC sampai dengan grower. Administrasi ini meliputi populasi, umur ayam, pakan, program obat dan vaksinasi, produksi telur, persentase produksi, dan konversi pakan.
Produksi telur meliputi jumlah butir telur, jumlah telur yang dihasilkan (kg), dan berat telur. Berat telur diperoleh perbandingan antara jumlah telur yang dihasilkan  (kg) dan jumlah butir telur.
Persentase produksi merupakan perbandingan antar jumlah butir telur dan jumlah ayam yang berproduksi. Selain persentase produksi, ada juga persentase per seribu ekor. Persentase perseribu ekor adalah jumlah telur (kg) berbanding dengan jumlah ayam.
Konversi pakan (feed convertion) digunakan untuk mengetahui biaya peroduksi. Konversi pakan merupakan jumlah pakan yang dibutuhkan untuk memproduksi satu kilogram telut. Nilai konversi pakan didapatkan dari perbandingan antara jumlah pakan (kg) dengan jumlah telur yang  dihasilkan (kg). Biaya produksi diketahui dengan cara nilai konversi pakan dijumlahkan terlebih dahulu dengan pengeluaran untuk obat dan vaksin, pekerja, dan perawatan kandang. Nilai pengeluaran itu biasanya bernilai 0,9 atau 1. Penjumlahan tersebut kemudian dikalikan dengan harga pakan untuk mendapatkan biaya produksi satu kilogram telur.
Laporan yang bersifat jangka panjang dilihat dari house product. House product didapatkan dari perbandingan antar jumlah butir telur dengan jumlah awal ayam saat mulai bertelur. House product memperlihatkan hasil produksi telur tanpa memperhatikan kematian ayam.
Harga jual telur dipasarkan tidak dipengaruhi oleh nilai-nilai di atas. Harga jual telur ditentukan oleh penawaran dan permintaan konsumen. Harga tersebut diketahui dari Pinsar atau pusat informasi pasar, sehingga keuntungan bisa didapatkan jika biaya produksi lebih rendah dari pada harga jual telur.


KESAN DAN PESAN
kesan telah melakukan magang selama satu minggu di peternakan Tenjolaya Farm. Untuk kami berempat ini merupakan pengalaman yang pertama magang di peternakan ayam petelur. Peternakan yang berlokasikan di daerah pegunungan jauh dari perkotaan memberikan satu pengalam baru. Banyak ilmu yang didapat dari magang tersebut mulai dari manajemen pembesaran DOC hingga administrasi peternakan. Praktek langsung memvaksinasi mulai dari cara mencekok hingga menyuntik intramuskular pada ayam. Tidak lupa pemberian pakan hingga pengambilan telur di kandang produksi. Selain itu kegiatan magang ini mengajarkan bahwa belajar tidak hanya lewat buku dan kuliah tapi pengalaman adalah guru yang terbaik.
Para pegawai di peternakan juga sangat membantu kami dalam belajar dan beradaptasi. Keramahan para pegawai dan warga sekitar membuat kita merasa dijamu. Kami di berikan pelayanan yang tidak kami bayangkan mulai dari tempat penginapan hingga mengantarkan kami ke Bogor kembali.
Pesan dan saran dari kami untuk peternakan Tenjolaya ialah untuk menjaga biosecurity dan keamanan juga kesehatan para pekerja. Meski biosecurity di peternakan Tenjolaya belum diterapkan seoptimal karena menekankan pada kekebalan langsung pada ayam. Namun hal tersebut dapat memberi dampak kesehatan kepada pegawai di peternakan dan konsumen telur.


DAFTAR PUSTAKA
Suprijatna Edjeng. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Jakarta: Penebar Swada.
Yasin Suhubdy.1988.Funsi dan Peranan Zat-Zat dalam Randsum Ayam Petelur. Jakarta: PT. Mediyatama Sarana Perkasa.
Fadilah, R, Polana.2005. Aneka Penyakit pada Ayam dan Cara Mengatasinya. Depok: Agro Media Pustaka.
Share

One thought on “LAPORAN MAGANG HIMPRO ORNITHOLOGI DAN UNGGSA DI PETERNAKAN AYAM PETELUR TENJOLAYA FARM TANGGAL 4-11 JULI 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *